![]() |
| Foto : Musa Mako Tabuni, Ketika Berorasi Politik di hadapan beribu masa aksi. |
Jejak Mako Tabuni: Lahir Besar Bersama Rakyat di Jalanan, Mati pun Bersama Rakyat di Jalanan (1979-2012)
“Hanya satu kataaaa…. Lawan, Lawan dan Lawan.” Teriak Mako Tabuni sambil mengacungkan tangan kiri, tangan kanannya genggam erat mic di atas mobil komando (Pick Up hitam) itu.
“Kita
tidak boleh kalah, menyerah dan percaya terhadap tipu daya penjajah.
Berhenti, berhenti dan berhenti percaya terhadap Jakarta,” tegasnya
disambut aplaus.
Begitulah
Mako Tabuni, ketua I Komite Nasional Papua Barat (KNPB) berorasi di
hadapan ribuan demonstran damai di lingkaran Abepura, kota Jayapura,
pada 2 April 2011 silam.
Selang waktu
pasca orasi itu hanya setahun. Pada 2012, Polda Papua memasukan Mako
Tabuni ke dalam Daftar Pencaharian Orang (DPO) gelap. Atas tuduhan yang
tidak pernah dibuktikan hingga hari, tepatnya pada 14 Juni 2012,
pasukan khusus Polda Papua menembak mati Mako Tabuni. Penembakan saat
kunyah pinang terakhirnya di pinggiran jalan, putaran taxi Perumnas III
Waena, Kota Jayapura, Papua, pada pukul 9 pagi.
Pasca
penembakan, sejumlah media menulis Polisi mencurigai Tabuni terlibat
dalam penembakan terhadap Dietmar Pieper (55), peneliti Jerman pada 29
Mei 2012 di pantai Base G Dok 9, terlibat dalam sejumlah kerusuhan di
Papua dan penembakan terhadap warga sipil di Kota Jayapura dalam bulan
itu.
http:liputan6.com menulis,
kecurigaan itu yang diungkapkan Kepala Biro Penerangan Masyarakat
(Karopenmas) Mabes Polri Brigjen Polisi Mohammad Taufik. Ia mengatakan,
pihaknya menembak Ketua I KNPB karena yang bersangkutan pelaku kerusuhan
di Wamena, Jayapura, Provinsi Papua.
“Tentunya
pelaku beberapa peristiwa yang terjadi di Papua yang identitasnya atas
nama MT. Dia merupakan bagian dari pengurus KNPB, jabatannya ketua 1,”
kata Taufik usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPR, pada 14 Juni
beberapa jam setelah pembunuhan Mako Tabuni.
Kata
polisi, penembakan itu pun terpaksa dilakukan karena Mako berusaha
merebut senjata dari para eksekutornya. Polisi juga menyebutkan, aparat
menemukan satu jenis senjata revolver dan 18 peluru dari saku jaketnya.
Senjata itu dikatakan hasil curian.
Anehnya,
mengapa Mako yang membawa senjata dengan peluru itu hendak merebut
senjata pembunuhannya? Mengapa Mako tidak menembak kalau ada bawa
senjata? Aneh juga, aparat Negara Hukum menembak mati orang yang tak
bersalah tanpa proses pengadilan, pembuktian dan putusan pengadilan.
Soal-soal
itu tidak penting. Masalah-masalah itu sudah menjadi tren di Papua,
juga di Indonesia. Tembak dulu, kemudian mencari alasan anggota teroris
ataupun organisasi Papua Merdeka. Soal penting dalam diskusi kasus
Tabuni adalah, apakah benar Mako Tabuni sejahat yang dituduhkan? Siapa
itu Tabuni yang sebenarnya?
Kita
butuh orang dekat untuk menjawabnya. Saya bukan orang dekat, namun saya
punya catatan menyaksikan dan menulis berita soal Tabuni memimpin
demonstrasi selama dua tahun (2011-2012). Saya hanya ingin
memperlihatkan sisi lain dari Mako Tabuni yang “Jahat” itu?.
Siapa itu Mako Tabuni?
Mako
Tabuni bernama asli Musa Tabuni. Ia Lahir di Pyramid, Lembah Baliem
(Kini bagian barat Kabupaten Jayawijaya) pada 1977 (menurut catatan di
pusara 1979). Ia lahir dari orang tua bermata pencaharian petani,
seperti kebanyakan orang di wilayah gunung waktu itu.
Kakak
sulungnya, Jordan Tabuni mengatakan, waktu Musa lahir, wilayah ini
dilanda operasi Militer yang disebut Operasi Kikis. Masyarakat
menyebutnya gejolak 1977. Masyarakat menghadapi tuduhan, penangkapan,
penahanan, pegejaran dan pengusian ke hutan hingga tahun 1980. Mako
kecil merasakan dan mengalami langsung gejolak politik itu.
“Mako
ikut mengungsi ke hutan. Ia sudah terlibat dalam perjuangan ini sejak
kecil,” ungkap kaka kandungnya dalam sambutan pemakaman sang pejuang di
Post 7 Sentani, Kabupaten Jayapura, pada 15 Juni 2012.
Asia
Human Rights Commission Human Rights and Peace for Papua (ICP) dalam
tahun 2013 merilis laporan tentang peristiwa itu dengan judul “Genosida
yang Diabaikan: Pelanggaran HAM di Pegunungan Tengah Papua 1977-1978”.
AHRC menyebutkan 4.146 orang tewas dalam operasi itu.
AHRC
menyebutkan, ribuan orang itu tewas akibat bom-bom yang dijatuhkan,
penembakan dan penyiksaan yang dihadapi. Bom jenis Napalm militer
Indonesia jatuhkan menggunakan pesawat tempur jenis OV-10 Bronco yang
dibeli dari Amerika Serikat, dua helikopter Bell dan dua helicopter
Iroquis bantuan pemerintah Australia dan Amerika. Helikoper Iroquis dari
pemerintah Australia dan helikopter Bell UH-1H Huey dari Amerika
Serikat.
Peristiwa itu berlalu. Kata
kakak saulungnya, ketika situasi agak aman, Mako Tabuni kembali ke
kampung Pyramid. Mako tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak lain. Ia
menempuh pendidikan dasar, sekolah menengah pertama dan menengah atas di
SMA Negeri I Kimbim, ibukota distrik kampung kelahirannya. Waktu SMA
inilah berteman dengan Bucthar Tabuni, mantan ketua Umum KNPB dan kini
menjadi deklator United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).
Usai
menyelesaikan pendidikan, Mako Tabuni meneruskan pendidikan tinggi di
Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi di Manado, Sulawesi Utara. Di bangku
kuliah itulah Mako Tabuni bergumul, membaca buku sejarah, bercerita
tentang sejarah Papua bersama rekan-rekannya. Pemberontakannya pun
tumbuh subur bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Asosiasi
Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua se-Indonesia (AMPTPI) yang dipimpin
Markus Haluk (sekretaris jendral) dan Buchtar Tabuni (wakil sekjen).
Ada
dugaan, puncak dari pergumulan itu lahirlah resolusi konggres II AMPTPI
di Manado pada 2007. Salah satu resolusinya melakukan mogok nasional
dengan agenda tutup PT Freeport. Ketika agenda hendak dieksekusi,
pentolan AMPTPI berbeda pendapat. Ada yang mengatakan, mahasiswa Papua
menggelar aksi di wilayah masing-masing. Tetapi ada juga yang
mengatakan, mahasiswa Papua harus terlibat aktif bersama rakyat Papua.
Kelompok yang mengatakan mahasiswa harus terlibat, termasuk Mako Tabuni
menyatakan eksodus mahasiswa Papua menjelang akhir 2008.
Mako
Tabuni dengan rekan-rekannya yang eksodus mendirikan tenda darurat di
lapangan makam Theys Eluay di Sentani. Satu bulan lebih mahasiswa
melakukan aktivitas politik di lapangan terbuka itu. Mahasiswa melakukan
demonstrasi dan orasi-orasi politik dengan isu utama referendum dan
boikot Pilpres 2009.
Situs
papuansbehindbars.org menulis, Mako Tabuni memimpin demo damai pada 10
Maret 2008, menyerukan perlunya referendum untuk kemerdekaan Papua Barat
daripada ikut berpartisipasi dalam pemilu Indonesia. Walaupun tidak ada
penangkapan pada saat demonstrasi berlangsung, beberapa minggu
setelahnya, pada 3 April, Mako Tabuni dan Serafin Diaz, mahasiswa asal
Timor Leste, ditangkap saat mereka turun dari kapal penumpang KM Labobar
di Jayapura.
Menurut
papuansbehindbars.org, satu jam setelah itu, laporan Aliansi Demokrasi
untuk Papua (ALDP) menyebutkan, pihak kepolisian melakukan penyergapan
di areal Dewan Adat Papua, DAP. 15 orang ditangkap. Laporan ALDP
menjelaskan bahwa sejak mereka diusir dari areal makam Theys Eluay, para
muda-mudi aktivis KNPB kerap berkumpul di halaman DAP. 14 pria dan satu
wanita ditangkap dan dilepaskan pada hari berikutnya. Tetapi Yance Mote
ditahan di penjara dan diadili bersamaan dengan Mako Tabuni dan Serafin
Diaz. Ketiganya dikenakan pasal 106 dan 160 KUHP, yang mengacu pada
kegiatan makar dan penghasutan.
Dokumen-dokumen
persidangan yang disediakan oleh Mahkamah Agung memberikan secara garis
besar kasus ketiga pria sewaktu melewati berbagai tingkat pengadilan.
Serafin Diaz dan Yance Mote dituduh memberikan pidato-pidato pada saat
demonstrasi berlangsung. Tuduhan utama terhadap Mako Tabuni adalah bahwa
dia menyewa sebuah taksi dan memasang pengeras suara di atap taksi
tersebut untuk menyampaikan pesan kepada para demonstran. Ketiganya
akhirnya dibebaskan dari dakwaan makar, tetapi dihukum 18 bulan penjara
karena penghasutan.
Perjuangan Mako Tabuni
Perjuangan
Mako Tabuni tidak dimulai ketika bergabung dengan KNPB. Mako memulai
perjuangan sudah dikatakan awal bahwa, ia mulai berjuang sejak kecil,
jauh sebelum dia mengerti baik. Ia harus ikut mengungsi bersama orang
tua ke hutan.
Situs
papuansbehindbars.org, menyebutkan berbagai insiden dalam hidup dia. Dia
mengingat bagaimana ayahnya selalu diselimuti dengan stigma pengacau,
dan selalu ditangkap setiap tanggal 17 Agustus dalam upaya menjaga
keamanan seputar hari kemerdekaan oleh pihak Indonesia. Anaknya sendiri
akhirnya selalu harus mengunjungi barak militer Indonesia, dimana
ayahnya ditahan untuk membawa makanan.
Mako
Tabuni akhirnya mendapat kurungan penjara pertama bagi dirinya sendiri
saat pindah ke Jayapura pada tahun 1999. Dimana dia ditahan oleh
Kopassus dan dituduh memberikan bantuan kepada ketua TPN-OPM, Matias
Wenda. Pada waktu itu, dia tidak ditahan untuk waktu yang lama, tetapi
kemudian ditahan lagi di Timika pada tahun 2007, lagi-lagi dengan
tuduhan menjadi anggota TPN. Dia didakwa dengan tuduhan makar dan
ditahan selama 7 bulan, namun kemudian dilepas tanpa kasusnya diadili di
pengadilan.
Pemenjarahan itu tidak
membatasi ideologi Mako Tabuni. Ia memimpin satu demo besar pada 2 Mei
2012. Agendanya menolak aneksasi West Papua pada 1 Mei 1963. Penolakan
dihadiri ribuan massa aksi dari sejumlah sudut kota. Massa berkumpul dan
berorasi di Taman Imbi Jayapura, tepatnya di depan bekas gedung New
Guinea Raad (kini gedung Dewan Kesenian Tanah Papua, yang tidak pernah
ada gerakan apapun itu).
Orasi-orasi
politik secara bergantian, kadang emosional dan kadang diplomatis itu
Tabuni tuntun. Saking tidak setujunya dengan aneksasi, Tabuni mengakhiri
orasi-orasi politik sejenak sekitar 5 menit. Ia memanjat gedung bekas
New Guinea Raad itu dan menulis di tembak depan gedung itu “Milik New
Guinea Raad” dengan pilox hitam.
Sekalipun
begitu, demo ini berakhir dengan damai. Demo yang berlangsung dengan
damai itu dinodai dengan penembakan terhadap Terjoli Weya, seorang
mahasiswa asal Kabupaten Tolikara. Weya ditembak di depan Koramil
Abepura saat pulang aksi. Ia ditembak sang sniper, ketika itu Weya duduk
di cap truk yang demonstran tumpangi.
Penembakan
Weya ini mengawali penembakan-penembakan terhadap aktivis KNPB nanti,
termasuk penembakan terhadap Mako Tabuni. Penembakan itu macam teror
terhadap aktivis Papua, tetapi tidak berhasil membatasi langkah Mako
Tabuni bersama KNPB. Ia kembali memimpin satu demo akbar lagi,
menghadirkan 5 ribu rakyat Papua turun jalan pada 2 Agustus 2011.
Abepura menjadi lautan manusia yang ingin menentukan nasib sendiri.
Kepada ribuan massa itu, Mako memperlihatkan ideologi perlawananya bukan
teror, intimidasi dan pembunuhan. Ia mengajak ribuan massa itu
mengikrarkan janji perlawanan damai.
“Angkat
tangan kirimu sebagai simbol perlawanan damai. Kita mempertahankan
simbol ini selama 30 menit. Kita mau membuktikan, kita mampu berjuang
dengan damai atau tidak. Siapa yang tidak bertahan, ia tidak akan pernah
bertahan dalam perjuangan damai ini,” ajak Mako.
Ajakan
itu pun dapat diikuti ribuan massa itu dengan tertib. Mako Tabuni pun
menghitung waktu di HP Nokia Hitam itu sambil mengacungkan tangan
kirinya. Hingga 30 menit berlalu, sebagian besar dari massa aksi mampu
bertahan mengangkat tangannya. Massa aksi tidak peduli dengan terik
matahari dan keringat yang mengalir deras di badan jalan, lingkaran
Abepura itu. Polisi dan para intel dan jurnalis yang kawal demo
menyaksikan drama itu.
“Rakyat Papua
sudah membuktikan bahwa kita mampu melakukannya. Kita tidak perlu
mengharapkan orang lain datang menolong kita. Rakyat Papua harus bangkit
mencatat sejarahnya sendiri,” tegasnya.
Tabuni
menyadari betul, mencatat sejarah, memperjuangkan kemerdekaan itu
bukanlah retorika belaka, melainkan perlawanan nyata. Rakyat Papua harus
terlibat aktif, meninggalkan budaya bicara-bicara, membedakan dari
kelompok ini dan itu, tetapi bersatu dalam gerakan rakyat dengan satu
budaya kerja nyata. Kerja-kerja nyata itulah yang dapat mewujudkan
cita-cita keluar dari genggaman pendudukan bangsa kapitalis dan barbar.
“Kita
harus lawan, tanpa perlawanan kemerdekaan itu mimpi siang bolong.
Kata-kata tidak akan menjawab kemerdekaan. Kerja nyata menjawab
kemerdekaan itu,” tegas Mako.
Kata
dia, perlawanan menentukan nasib sendiri itu bukan hal yang terpisah,
melainkan hak mendasar yang melekat; hak politik yang tidak bisa
digangu gugat oleh siapapun. Namun, hak itu, Indonesia, Amerika dan
Belanda batasi dengan mengobjekkan orang Papua dalam membicarakan status
politik Papua. Orang Papua tidak dilibatkan dalam peralihan kekuasaan
dari Pemerintah Belanda ke pemerintahan sementara atau United Nation
Temporary Executive Authority (UNTEA), UNTEA ke Indonesia.
“Puncak
permainan itu rekayasa Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969.
Indonesia tidak memberikan kebebasan orang Papua menentukan nasib
sendiri. Indonesia memaksakan Papua menjadi Indonesia dengan dukungan
kapitalis Amerika,” ujarnya dengan tegas.
Kata
Mako, pemaksaan itu terjadi secara tidak adil, sistematik dan
militeristik. Indonesia membawa sistem demokrasi Jawa,
musyawarah-mufakat, mengabaikan hak memilih 700.000 orang Papua. 1.025
orang yang mewakili orang Papua.
“Jumlah itu pun yang betul-betul memilih 75 orang saja. Lebihnya tidak jelas,” tegasnya.
Kata
dia, ketidakjelasan, permainan dan pelanggaran HAM itu mengawali
peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM yang sedang berlangsung dalam
pendudukan Indonesia. Pembunuhan terus berjalan dengan alasan kriminal
dan separatis demi menguasai kekayaan alamnya. Isu separatis dan
kriminal menjadi kata ampuh bagi penjajah mendiamkan orang Papua yang
dianggap mengganggu atau menghalangi kepentingan ekonomi.
“Kolonial
melakukan semua demi kepentingan mengamankan kekayaan alam Papua. Orang
Papua hanya menjadi budak dan kambing hitam,” tegasnya.
Kata
Mako, rakyat Papua tidak bisa membiarkan situasi ini terus berlangsung.
Rakyat Papua harus bangkit menuntut hak politiknya. Hak politik itu
akan menjadi nyata hanya dengan komitmen perjuangan yang berani, serius,
terus menerus, berwibawa dan taruhan nyawa.
“Lebih
bagus kita hancur, musnah dalam melakukan perlawanan mempertahankan
harga diri, daripada ditindas dan diperbudak sampai habis,” tegasnya
pada 2 April 2012.
Mako Tabuni
betul-betul wujudkan kata-katanya dengan perlawanan damai. Perlawanan
hanya dengan kekuatan massa rakyat, argumen-argumen sejarah yang benar,
cerdas dan penyerahan diri yang total kepada perjuangan pembebasan
bangsa.
“Penjajah tidak boleh tangkap
saya hidup. Mako lahir dan besar di jalanan. Matipun bersama rakyat di
jalanan,” ungkap rekannya kepada penulis mengingat ungkapan Tabuni
seminggu sebelum penembakan.
Tabuni Dikenang: “Mako itu Bapa, Bukan Pemimpin”
Figur
sosok Mako Tabuni sulit dilupakan. Setiap tahun, KNPB selalu gelar
ziarah ke makam Mako Tabuni di kampung Sere. Tahun 2016, KNPB gelar
renungan sekaligus makan pinang bersama di tempat Tabuni ditembak mati
tim khusus Polda Papua. Makan pinang bersama ini untuk mengenang
mendiang Mako Tabuni.
“Kita berdoa di
sini saja, kita tidak pergi ke kuburan. Kita harus menghormati dia. Dia
adalah guru dalam perlawanan,” kata Agust Kossay, ketua I KNPB Pusat
kepada jurnalis di putaran taksi Waena, Kota Jayapura, Papua, Selasa
(14/6/2016).
Kata dia, Mako Tabuni
memberikan pelajaran yang sangat berharga dalam perlawanan. Terutama,
keberaniannya menyerahkan seluruh hidupnya demi pembebasan bangsa dan
demo mendirikan sebuah bangsa yang merdeka.
“Dia
mempertaruhkan segalanya. Kami tidak bisa balas kami hanya bisa memberi
penghormatan. Semua orang bisa dalam situasi aman itu biasa, tetapi
dalam situasi darurat itu luar biasa. Mako yang melakukan itu,” tegas
Kossay.
Juru Bicara KNPB pusat,
Bazoka Logo mengatakan, Mako Tabuni sama dengan aktivis lain yang sudah
tewas di medan perjuangan, namun ada hal-hal unik, yang terpancar dari
figur Mako Tabuni.
Pertama, Mako
Tabuni tidak pernah menunjukkan diri pemimpin. Ia menunjukkan sikap
kebapaan. “Dia itu seorang bapa, bukan pemimpin” kata Logo.
Kata
dia, sikap kebapaan itu muncul dalam setiap kehadirannya bersama
aktivis KNPB. Dia tidak pernah memerintah layaknya seorang pemimpin. Dia
malah bertindak seorang bapa yang sedang mendidik anak.
“Kalau
dia bilang melakukan ini, dia selalu mengajak bersama-sama melakukan
itu. Bagi selebaran. Dia ikut membagikannya,” ujar Logo sambil mengenang
sang bapa.
Kedua, Mako Tabuni tidak
pernah mengeluh. Mako Tabuni selalu mengajak melakukan perjuangan dengan
sumber daya yang ada pada KNPB.
Ketiga,
Mako Tabuni seorang pendengar yang baik dan rendah hati. Dia tidak
pernah membantah, membela diri dan klarifikasi ketika anggota menuduh
atau marah atas sejumlah masalah organisasi.
“Dia hanya mengatakan minta maaf dan senyum saja,” katanya.
Keempat,
Mako Tabuni seorang revolusioner yang tidak pernah menyerah. Dia
mempunyai komitmen dengan keberanian mental yang sangat luar biasa.
“Keberanian mental itu milik Mako. Tidak ada yang bisa sama dengan dia,” ujarnya.
Kelima,
seorang Mako Tabuni tidak pernah bicara dua kali. Dia seorang bapa yang
bicara sedikit, kemudian melaksanakan yang dia katakan.
“Kalau dia bilang satu kali, kita tidak laksanakan. Dia yang melakukannya,” kata Logo.
Begitulah
Mako Tabuni ada di benak aktivis KNPB pasca pembunuhannya. Singkat
kata, Tabuni telah tiada, sudah 4 tahun. Namun ideologinya, teladan dan
pesannya mengedepankan perlawanan damai masih hidup di mulut-mulut
aktivis KNPB. Begitu ka?
Sumber : suarapapua.com
Editor : Admin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar