![]() |
| Ilustrasi Sandiwara Dalam Perjuangan Papua Merdeka |
Nina Wene -- Banyak tokoh Papua Merdeka yang sepanjang sejarah perjuangan kemerdekaan West Papua menunjukkan pelajaran hidup bagi kita generasi yang masih hidup dan berjuang untuk kedaulatan negara West Papua.
Ada pelajaran hidup yang membantu kita untuk terus berjuang, ada pula
contoh yang patut kita hindari. Dua hal yang perlu kita jadikan
pelajaran hidup. Yang pertama, pelajaran yang baik kita ambil pertama
dari pejuang Senior Andy Ayamiseba dan Rex Rumakiek, dua tokoh OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang sejak muda sampai dengan hari ini, konsisten memperjuangkan Papua Merdeka, dan bukan itu saja, menolak segala macam tawaran NKRI yang bertujuan melemahkan perjuangan bangsa Papua.
Sebagai pemimpin Black Brothers, pengaruh grup musik legendaris ini
sangat besar dan luas, begitu dahsyat dalam memperjuangan aspirasi
kemerdekaan West Papua. Sampai hari ini, Black Brothers masih diterima secara terbuka, di semua tingkatan di seluruh Melanesia. Coba lihat di Facebook.com dan di Youtube.com
dan ketik Black Brothers, Anda akan temukan para pendukung dan yang
meng-upload lagu-lagu Black Borthers ialah orang-orang Indonesia, bukan
orang Papua, bukan orang Melanesia.
Artinya Black Brothers masih punya peluang besar untuk diterima oleh
rakyat Indonesia, melupakan apa yang pernah dilakukannya selama ini.
Rex Rumakiek ialah seorang pejuang Papua Merdeka yang sepanjang hidupnya keluar-masuk, memperjuangkan Papua
Merdeka. Ia menetap di Suva, Fiji, di mana pengaruh Indonesia sangat
kental dan sangat kuat. Godaan untuk beristerikan perempuan Asia ataupun
perempuan Indonesia di Fiji sangat besar. Ia juga sudah pernah ditawari
menggunakan “politik Jawa”, lewat perempuan dan rayuan gombal. Tetapi
Rex Rumakiek adalah pemain kelas dunia dlaam politik.
Baik Andy Ayamiseba
maupun Rex Rumakiek tidak pernah mengelaurkan pernyataan-pertanyaan
keapda dunia, tidak pernah menayampaikan tuduhan kepada Indonesia, atau
apapun. Yang mereka lakukan ialah membangun jaringan, persahabatan, dan
persaudaraan, memperkenalkan diri dan menyampaikan keluhan dan
perjuangan bangsa Papua. Mereka bukan propagandists, tetapi mereka lobbyist ulung bangsa Papua.
Rex Rumakiek berbasis di Suva dan Ayamiseba di Port Vila, keduanya sebagai Senir OPM, merendahkan diri dan mendorong adik-adik mereka memperjuangan Papua
Merdeka dengan jernih dan tulus. Tidak bersandirawa, tidak
bermain-main, tidak bersilat kata, tidak dengan niat lain di dalam diri
pribadi. tidak mendorong egoisme pribadi dan kelompok dan suku, tetapi
memperjuangan Papua Merdeka secara murni.
Contoh yang lain ialah Gen. TRWP Mathias Wenda, yang sejak kecil sampai dengan usia tua, masih tetap konsisten berjuang untuk Papua
Merdeka. Banyak tawaran NKRI telah ia tolak, banyak sumbangan NKRI
dalam bentuk beras, supermie, kopi, uang, ataupun sumbangan senjata ial
tolak. Banyak agen-agen NKRI orang Papua yang datang kepadanya ia tolak.
Gen. Wenda menolak dialgoue, menolag Jaringan Damai Papua, menolak PDP
yang bersilat kata, menolak para panglima-nya sendiri yang
berkomunikasi dengan pihak NKRI. Gen. Wenda konsisten sejak masih muda
sampai dengan hari ini. Beliau selalu berkata dalam kata sambutannya,
Rumus awet muda dan umur panjang yang pertama ialah jangan punya niat jahat dan jangan tipu-tipu. Karena upah menipu mati. Orang tua kalau punya niat jahat biasanya niat itu tidak disimpan dua malam, dalam sehari saja harus dikeluarkan: dilakukan atau harus mengaku. Kalau tidak, nyawamu sendiri terancam.
Mudah-mudahan dari tiga contoh ini, generasi muda Papua berpolitik yang benar, berjuang yang benar, berdasarkan prinsip dan nilai-nilai hidup dan perjuangan bangsa Papua,
bukan dengan meng-copy-paste ide dan nilai hidup bangsa lain, bukan
dengan mengikuti ideologi bangsa lain. Kematian sebuah bangsa terjadi
pertama-tama karena meng-copy ide-ide dan cara kerja orang lain yang
tidak punya akar kuat di dalam diri, jiwa dan tanah leluhur kita
sendiri.
Posted By : Admin
Copyrigh@Papuapost 'Sumber'

Tidak ada komentar:
Posting Komentar